Pura Melanting Desa Bugbug

Atas Asung Kerta Wara Nugraha Ida Sang Hyang Widhi Wasa, Desa Adat Bugbug melaksanakan renovasi dan pembangunan kembali Pura Melanting dan Pura Rambut Sedana yang berlokasi di kawasan Sang Hyang Ambu, dengan luas areal kurang lebih 1,2 hektar. Pembangunan pura ini dirancang dengan mengacu pada konsep tata ruang suci Tri Mandala, yaitu pembagian kawasan menjadi Utamaning Mandala, Madyaning Mandala, dan Nistaning Mandala, yang merupakan implementasi nilai filosofi keseimbangan, kesucian, serta keteraturan ruang dalam arsitektur tradisional Bali.

Renovasi Pura Melanting diprakarsai pada masa kepemimpinan Kelian Desa Adat Bugbug periode 2020–2025, I Nyoman Purwa Ngurah Arsana, ST. Prakarsa tersebut dilatarbelakangi oleh kondisi bangunan pura sebelumnya yang sudah mengalami kerusakan dan pelapukan akibat usia bangunan, serta keterbatasan luas areal pura yang dinilai tidak lagi mampu menampung jumlah pemedek yang terus meningkat setiap pelaksanaan piodalan dan kegiatan keagamaan lainnya.

Dalam pelaksanaan pembangunan, perencanaan arsitektur dilakukan secara matang dengan melibatkan arsitek profesional. Arsitek yang merancang Pura Melanting Desa Adat Bugbug adalah Ir. I Wayan Winaja, yang dikenal sebagai salah satu arsitek senior di Bali dengan pengalaman panjang dalam merancang pura, bangunan suci, serta bangunan bersejarah bernuansa arsitektur tradisional Bali. Beberapa karya beliau yang dikenal luas di antaranya adalah penataan dan perancangan kawasan Pecatu Graha, serta berbagai proyek pembangunan pura dan bangunan adat lainnya yang mengedepankan keseimbangan antara nilai spiritual, estetika, dan fungsi.

Dalam perancangan Pura Melanting Desa Adat Bugbug, Ir. I Wayan Winaja mengusung konsep desain yang berlandaskan pada filosofi arsitektur tradisional Bali yang mengacu pada Asta Kosala Kosali dan Asta Bumi, dengan menekankan keharmonisan hubungan antara manusia, alam, dan Ida Sang Hyang Widhi Wasa sebagaimana tertuang dalam konsep Tri Hita Karana. Penataan kawasan pura dirancang dengan memperhatikan kesucian ruang melalui penerapan konsep Tri Mandala, sehingga setiap zona memiliki fungsi, nilai sakral, dan makna spiritual yang jelas.

Selain itu, desain Pura Melanting juga menonjolkan karakter arsitektur yang kokoh, agung, dan berwibawa, dengan tetap mempertahankan identitas lokal Desa Adat Bugbug. Ornamen, ukiran, serta pemilihan material bangunan dirancang dengan mengadopsi pakem arsitektur Bali yang sarat makna simbolis, sehingga tidak hanya menampilkan keindahan visual, tetapi juga merepresentasikan nilai-nilai religius dan filosofi kehidupan umat Hindu Bali. Perancangan tersebut juga mempertimbangkan aspek kenyamanan pemedek, sirkulasi kawasan pura, serta keberlanjutan fungsi pura sebagai pusat kegiatan keagamaan masyarakat.

Pembangunan Pura Melanting juga tidak terlepas dari partisipasi aktif krama Desa Adat Bugbug melalui semangat ngayah dan gotong royong yang dilaksanakan secara bergilir oleh banjar-banjar adat. Keterlibatan krama dalam berbagai tahapan pembangunan, mulai dari persiapan lahan, proses pembangunan fisik, hingga penyelesaian detail ornamen dan penataan lingkungan pura, merupakan wujud nyata rasa bhakti dan tanggung jawab bersama dalam menjaga warisan spiritual desa. Semangat kebersamaan ini mencerminkan kuatnya nilai persaudaraan, solidaritas, dan rasa memiliki terhadap keberadaan pura sebagai pusat kegiatan keagamaan dan adat istiadat masyarakat.

Adapun tujuan utama renovasi Pura Melanting adalah untuk meningkatkan kenyamanan dan kekhidmatan krama Desa Adat Bugbug dalam melaksanakan persembahyangan, khususnya pada saat piodalan maupun kegiatan yadnya lainnya. Selain itu, keberadaan Pura Rambut Sedana juga memiliki peran penting sebagai stana Ida Bhatara yang erat kaitannya dengan aspek kesejahteraan dan kemakmuran umat.

Kini, Pura Melanting Desa Adat Bugbug berdiri dengan megah dan tertata dengan baik, menjadi salah satu ikon kebanggaan krama Desa Adat Bugbug. Sejak dilaksanakannya renovasi, Pura Melanting tidak hanya menjadi pusat persembahyangan masyarakat setempat, tetapi juga semakin banyak dikunjungi oleh pemedek dari berbagai daerah di luar Bugbug. Hal ini menunjukkan bahwa keberadaan pura tersebut memiliki daya spiritual sekaligus nilai budaya yang semakin dikenal luas.

Diharapkan dengan berdirinya Pura Melanting dan Pura Rambut Sedana yang baru, dapat semakin memperkuat sraddha dan bhakti krama Desa Adat Bugbug kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa, sekaligus menjadi warisan spiritual dan budaya yang lestari bagi generasi mendatang.

Berikut Video penjelasan langsung dari arsitek i wayan winaja: